DASAR – DASAR K3

DASAR – DASAR K3

DASAR HUKUM PENERAPAN K3 DI TEMPAT KERJA

  • Undang – Undang No. 01 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

Pasal 8

  • Pengurus diwajibkan memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan fisik dari tenaga kerja yang akan diterimanya maupun akan dipindahkan sesuai dengan sifat – sifat pekerjaan yang diberikan padanya.
  • Pengurus diwajibkan memeriksa semua tenaga kerja yang berada dibawah pimpinannya, secara berkala pada Dokter yang ditunjuk oleh Pengusaha dan dibenarkan oleh Direktur.

Pasal 9

  • Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang :
  1. Kondisi-kondisi dan bahaya – bahaya serta yang dapat timbul dalam tempat kerja;
  2. Semua pengamanan dan alat-alat perlindungan yang diharuskan dalam tempat kerja;
  3. Alat – alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan;
  4. Cara – cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya.

 

  • Undang – Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Pasal 86

  • Setiap pekerja / buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas :
  1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja;
  2. Moral dan kesusilaan; dan
  3. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai – nilai agama;
  • Untuk melindungi keselamatan pekerja / buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja.
  • Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan.

Pasal 87

  • Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan.
  • Ketentuan mengenai penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

 

  • Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012 tentang Sistem Manajemen K3

Pasal 1

  • Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 di perusahaannya.
  • Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku bagi perusahaan :
  1. Mempekerjakan pekerja / buruh paling sedikit 100 orang; atau
  2. Mempunyai tingkat potensi bahaya tinggi

 

DEFINISI

  • Pengertian K3 secara Filosofi adalah upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan tenaga kerja dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat yang adil dan sejahtera.
  • Pengertian K3 secara Keilmuan adalah ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
  • Pengertian K3 secara Etimologis adalah upaya perlindungan agar tenaga kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat selama melakukan pekerjaan di tempat kerja serta bagi orang lain yang memasuki tempat kerja maupun sumber dan proses produksi secara aman dan efisien dalam pemakaiannya.

 

TUJUAN K3

  1. Menjamin kesempurnaan jasmani dan rohani tenaga kerja serta hasil karya dan budayanya
  2. Mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan dan PAK
  3. Menjamin :
  4. Setiap tenaga kerja dan orang lainnya yang berada di tempat kerja mendapat perlindungan atas keselamatannya
  5. Setiap sumber produksi dapat dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien
  6. Proses produksi berjalan lancar

ARTI DAN MAKNA LOGO K3

K3

Lambang K3 arti dan maknanya terdapat dalam Kepmenaker RI 1135/MEN/1987 tentang Bendera Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Berikut penjelasan mengenai arti dan makna lambang/logo/simbol K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) :

  1. Bentuk lambang K3: palang dilingkari roda bergigi sebelas berwarna hijau di atas warna dasar putih.
  2. Arti dan Makna simbol / lambang / logo K3 :

Palang : bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja (PAK).

Roda Gigi : bekerja dengan kesegaran jasmani dan rohani.

Warna Putih : bersih dan suci.

Warna Hijau : selamat, sehat dan sejahtera.

Sebelas gerigi roda : sebelas bab dalam Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

Writer: IP

RIGGING LOFT MANAGEMENT ?

RIGGING LOFT MANAGEMENT ?

Pernahkah kita mengalami pada saat akan menggunakan alat bantu angkat (Rigging Gear)  kelihatan berkarat, tertumpuk  bahkan ditumbuhi jamur? sehingga mengalami pelapukan, korosi dan kerusakan lainnya. Kondisi itu sangat berbahaya terlebih lagi hal tersebut sangat dapat mengalami kegagalan pengangkatan. Manajemen rigging loft bertujuan untuk memberikan pengaturan dan layanan terhadap kegiatan operasi pengangkatan berupa pemeliharaan yang baik untuk menjamin ketersedian dan keamanan penggunaan rigging gear secara efektif dan efesien.

Setiap Rigging Gear mempunyai karakteristik masing-masing, ditentukan oleh sifat bahan dan proses pembentukannya. Sehingga pemeliharaan dan penyimpananannya dibutuhkan perlakukan yang berbeda-beda. Adapun karakteristik rigging gear  berdasarkan bahan dan proses pembentukan meliputi :

  1. Bahan logam forging

Dibuat dengan drop forging proses,  seperti  shackle, hook, master link, regular swivel, eye bolt dan turnbuckle. Rigging gear ini  tahan terdahap paparan panas, sinar matahari dan hujan, kuat terhadap benturan, indikasi kerusakan mudah ditemukan, tahan terhadap korosi, mudah dirawat karena tidak membutuhkan perlakuan khusus dan mempunyai keuletan permanen yang tinggi sehingga ketidakmampuan saat menahan beban dapat diketahui,

  1. Bahan logam wire

Dibuat dengan wire drawing proses seperti  wire rope, jenis ini mudah korosi, tertekuk, terkikis dan perawatannya lebih khusus karena selalu diberi pelumas bila kering, terdegradasi bila terpapar panas dan sinar matahari secara terus menurus, merusakan bagian dalam dan inti sulit dideteksi.

  1. Bahan syntetic

Alat bantu angkat berbahan syntetic antara lain polyester,  polyamide (nilon) dan polypropylene seperti web sling, lacing, full body harness. Polyester tahan terhadap asam berkekuatan sedang tapi rusak oleh alkali, polyamid (nilon) hampir kebal terhadap alkalis tetapi rusak oleh asam dan polypropylene yang sedikit tahan oleh asam atau alkali tetapi rusak oleh cairan pelarut (solvents)  yang sama seperti  trichloroethylene, carbon tetrachloride, thinner dan cat dan sejenisnya.

Untuk membedakan bahan webbing tersebut umumnya pabrik pembuat memberikan kode warna pada lebel identifikasi, seperti polyester warna biru, polyamide (nilon) warna hijau dan polypropylene warna coklat. Jenis polyester, polyamide dan polypropylene juga mudah sobek, jahitan putus dan sangat mudah terdegradasi oleh paparan sinar matahari dan hujan, sulit mendeteksi bila mengalami pelapukan.

  1. Bahan logam lainnya

Seperti chain hoist, lever hoist, beam clamp merupakan alat angkat portable dikatagorikan sebagai rigging gear, sehingga membutuhkan pemeliharaan rutin seperti pelumasan, dan kerusakan pada umumnya disebabkan oleh korosi, identifikasi mudah hilang, safety latch dan lock pengatur arah hoist pada lever hoist serta pengereman tidak berfungsi.

Dalam system rigging loft management, diperlukan seorang yang mampu mengakomodir segala yang berhubungan dengan kegiatan dalam system rigging loft management yaitu yang disebit dengan rigging loft controller. Personil yang ditunjuk sebagai rigging loft controller adalah bukan orang biasa, melainkan personil yang memiliki kompetensi administrative dan inspeksi ringing gear.

Dengan begitu setiap rigging gear akan terinventarisir dengan baik dimana terdapat pencatatan peminjaman dan pengembalian alat serta peletakan rigging gear yang sesuai dengan karakteristik bahannya. Dan kompetensi Inspeksi rigging gear dilakukan pada saat mengeluarkan untuk digunakan dan menerima kembali setelah digunakan. Tujuan inspeksi adalah untuk mengetahui dan memastikan kondisi rigging gear yang akan dan sesudah digunakan, bila kondisi layak digunakan maka dapat ditempatkan di rigging loft untuk digunakan kembali jika ada permintaan, namun bila kondisi tidak layak maka segera pisahkan sehingga tidak digunakan lagi.

Demikian sekilas tentang rigging loft management, semoga bermanfaat bagi kita semua dalam setiap pekerjaan kita pada khususnya sehingga meminimalisir kegagalan dalam kegiatan lifting.

 

Writer : FP

Pelatihan Rigger Sertifikasi BNSP

Pelatihan Rigger Sertifikasi BNSP

Badan Nasional Sertifikasi Profesi disingkat (BNSP) adalah sebuah lembaga independen yang di bentuk pemerintah berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Badan ini bekerja untuk menjamin mutu kompetensi dan pengakuan dan kelayakan tenaga kerja pada seluruh sektor bidang profesi di Indonesia melalui proses sertifikasi.

Dengan mengikuti pelatihan rigger sertifikasi BNSP diharapkan setiap pekerja mempunyai kemampuan bersikap, berfikir dan bertindak secara konsisten sebagai perwujudan dari nilai pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki seseorang dalam melaksanakan pekerjaan.

Tingginya tingkat persaingan di semua bidang menyebabkan kebutuhan akan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap pekerja.

Termasuk dalam pertambangan juga industri minyak dan gas bumi yang merupakan industri yang strategis dalam menunjang kemajuan dan pembangunan bangsa dan negara. Dalam pertambangan maupun industri minyak dan gas bumi mempunyai ciri khusus yaitu padat modal, teknologi tinggi dan memiliki risiko yang tinggi, yang perlu pengelolaan yang profesional dan kredibel di perlukan tehnologi tinggi dan SDM yang kompeten adalah suatu konsekuensinya.

Persiapan dan rancangan yang sistematis harus dipersiapkan guna mendorong dan merealisasikan SDM yang kompeten dengan mengadakan pelatihan dan diklat serta perangkat-perangkat pendukungnya adalah salah satu upaya sehingga mampu bersaing dalam menghadapi era kompetisi dan perdagangan bebas melalui persiapan SDM yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang memadai.

Tujuan Pelatihan Rigger Sertifikasi BNSP ini membant terpenuhinya kebutuhan tenaga juru ikat beban yang kompeten sehingga mampu melaksanaan pekerjaannya dengan mengedepankan aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang handal dan profesional, menambah pengetahuan dan pemahaman tentang materi uji kompetensi sertifikasi Petugas Juru Ikat Beban (Rigger) sesuai dengan level/tingkat yang disyaratkan sehingga memiliki tingkat kualifikasi jabatan sesuai dengan tingkat kedalaman dan keluasan pengetahuan, keterampilan, tanggung jawab dan wewenangnya.

Untuk menjadi peserta pelatihan Rigger Sertifikasi BNSP agar dapat memperoleh Sertifikasi Kompetensi Kerja Juru Ikat Beban (Rigger) Bidang Operasi Pesawat Angkat Angkut dan Juru Ikat Beban, maka setiap peserta menyertakan persyaratan sebagai berikut :

  1. Membawa Foto copy Ijasah terakhir
  2. Membawa Foto copy KTP
  3. Membawa Foto copy sertifikat terkait (bila ada)
  4. Menyiapkan Portofolio pekerjaan / dokumen lain yang mendukung
  5. Menyertakan Surat Keterangan Sehat
  6. Surat Pengalaman Kerja dari Perusahaan yang bersangkutan
  7. Pas Foto ukuran 4 x 6, 3 x 4, dan 3 x 2 masing-masing sebanyak 3 lembar.

Minimal Berijasah SLTP atau setingkat, dengan pengalaman kerja minimal 1 tahun serta kompeten dalam asesmen kompetensi juru ikat beban di bidang operator pesawat angkat

Writer : HS

Kenalan Dengan Webbing Sling

Kenalan Dengan Webbing Sling

Webbing adalah anyaman / tenunan kain yang kuat dan dibuat berbentuk datar atau pipih dan juga berbentuk tabung dengan ukuran lebar yang berbeda-beda tergantung pada kekuatan yang ingin diaplikasikan pada webbing tersebut.

Sedangkan Webbing sling adalah webbing yang ujungnya diberikan jahitan yang membentuk lingkaran sebagai alat kait, dan atau dijahit membentuk melingkar atau lingkaran penuh agar dapat dikaitkan pada sebuah benda untuk ditarik / diangkat.

Webbing Sling sering disebut sling belt adalah alat pengganti wire rope sling (kawat seling) atau sling rantai dalam aplikasi mengangkat (lifting) dan mengikat (lashing).

Jenis – Jenis Webbing Sling

Webbing Nilon

Webbing Nylon

Webbing Nilon ini dibuat dengan bahan nilon yang umumnya digunakan pada aplikasi outdoor atau aplikasi yang ada diluar ruangan.

Nilon digunakan sebagai pilihan untuk penggunaan aplikasi outdoor karena memiliki karakteristiknya yang kuat dan elastis, selain itu nilon memiliki kelebihan yaitu tahan terhadap sinar matahari langsung.

Webbing Nilon ini tidak akan berkurang lebih dari 30% kekuatannya / nilai breaking loadnya walaupun digunakan dibawah terik sinar matahari langsung selama berhari-hari.

Webbing Polyester

Webbing Polyester

Webbing Polyester ini dibuat dari bahan polyester atau serat sintetis buatan. Serat polyester ini dibuat menggunakan serangkaian reaksi kimia, yang mana dibuat dari petroleum / minyak bumi, batu bara, udara dan air.

Reaksi kimia antara petroleum atau minyak bumi dengan zat-zat lain seperti alkohol dan corboxyl acid atau dapat disebut dengan istilah monomer atau ester.

Proses ini dilakukan pada suhu tinggi didalam ruangan hampa, yang mana biasa disebut dengan istilah polimerisasi. Dari proses polimerasi tersebut akan menghasilkan biji polyester yang nantinya akan diproses lagi menjadi serat-serat yang panjang dan halus yang dapat anda sebut dengan proses filament.

Benang-benang halus yang dihasilkan pada proses filament tadi digabung menjadi satu kemudian dipintal menjadi benang-benang yang memiliki kekuatan yang berbeda dengan benang jahit biasa.

Polyester memiliki karakteristik cukup stabil terhadap cahaya UV atau sinar matahari langsung dan tidak dapat menyerap air.

Untuk kekuatan dari serat polyester ini juga tidak berbeda jauh dengan nilon, yaitu sekitar 90% yang artinya perbedaan kekuatan dari nilon dan polyester ini adalah 10%.

Kekurangan dari serat polyester ini adalah tingkat elastisitasnya yang kurang dan juga tidak dapat tahan terlalu lama dibawah sinar UV langsung ( tidak dapat dijemur langsung selama berjam-jam, bahkan berhari-hari ).

 

Webbing Polypropylene

Webbing Polypropylene

Jenis Webbing tipe polypropylene ini adalah webbing yang dibuat dari bahan polypropylene yaitu sebuah polimer termo plastik yang dibuat oleh industri kimia dan digunakan dalam berbagai aplikasi , yang salah satunya adalah pembuatan webbing ini sendiri.

Polypropylene pertama kali dipolimerisasi pada tahun 1951 oleh sepasang ilmuwan petroleum Philips bernama Paul Hogan dan Robert Banks dan kemudian dilanjutkan oleh ilmuwan italia dan jerman Natta dan Rehn.

Dan pada tahun 1954, proses polimerisasi ini disempurnakan oleh Profesor Giulio Natta dari Italia. Natta menyempurkan dan mensintesis resin polypropylene pertama di Spanyol, dan menghasilkan proses polimerisasi yang memiliki kemampuan poliprepilena untuk mengkristal.

Pada tahun 1957, popularitasnya meledak dan meluasnya di seluruh eropa dan hari ini Polypropylene menjadi salah satu plastik yang paling banyak diproduksi di dunia.

Bahan Polypropylene ini memiliki karakteristik tahan terhadap zat kimia, memiliki tingkat elastisitas yang bagus tetapi sangat kuat, dapat kembali kebentuk semua walaupun telah mengalami proses penarikan dan penekukan.

Kelemahan dari bahan / material ini adalah rentan terhadap sinar UV / cahaya matahari langsung karena dapat meleleh jika terlalu lama terpapar sinar matahari, sangat mudah terbakar dan rentan terhadap oksidasi.

 

Webbing Kevlar

Webbing Kevlar

Webbing tipe kevlar adalah webbing yang dibuat dari bahan kevlar yaitu bahan yang terbuat dari serat sintetis yang dikenal dengan nama serat polimer atau poly-paraphenylene terephthalamide yang dicampur dengan serat nilon, tevlon, lycra dan polyester.

Poly-paraphenylene terephthalamide / kevlar diciptakan pertama kali pada tahun 1965 oleh Stephanie Kwolek saat dia bekerja di DuPont. Selanjutnya bahan ini dikembangkan oleh perusahaan Du-Pont dan dikomersialkan pertama kali pada tahun 1970an sebagai pengganti baja pada produk ban untuk keperluan balap / lomba. Bahan ini banyak digunakan pada ban, layar kapal, rompi anti peluru dan salah satunya juga merupakan bahan pembuat webbing karena kekuatan dan keelastisitasan dari bahan ini sendiri.

Bahan ini disebut-sebut memiliki kekuatan lima kali lebih kuat dari baja dengan berat yang sama. Bahan dari Kevlar ini memiliki kekuatan yang besar dan juga kekuatan terhadap abrasi yang tinggi. Bobot dari kevlar ini sangatlah ringan sehingga bahan ini sangat flexible untuk dibawa kemana-mana.

Kelemahan dari kevlar ini sendiri adalah ketahanannya terhadap degradasi UV sangat rendah, sehingga tidak akan tahan dibawah paparan sinar matahari langsung selama kurang lebih 40 jam. Bahan Kevlar ini dapat kehilangan kekuatannya hingga 50% saat terkena paparan sinar matahari langsung selama kurang lebih 40 jam, sehingga sangat berbahaya sekali jika anda menggunakan webbing tipe kevlar ini saat di Lapangan yang mendapat paparan matahari langsung.

Bentuk Webbing Sling

Eye webbing sling

Eye Webbing Sling

Eye webbing sling adalah tipe webbing sling yang bentuknya seperti wire rope sling dan chain sling yaitu memiliki mata kait di masing-masing ujungnya. Dengan adanya mata kait tersebut, maka eye webbing sling ini dapat mengantikan fungsi dari wire rope sling dan chain sling itu sendiri dalam aplikasi lifting maupun lashing.

Round Webbing Sling

Round Webbing Sling

Round Webbing Sling/Round Sling adalah webbing sling yang dijahit berbentuk melingkar atau lingkaran dan dibungkus dengan pembungkus dari serat sintetis yang juga terbuat dari bahan yang sama. Round sling juga dapat digunakan untuk mengantikan fungsi dari wire rope sling atau chain sling karena memang bentuknya yang melingkar dapat digunakan untuk mengait barang barang yang akan diangkat ataupun diikat dalam aplikasi lifting dan lashing.

Endless webbing Sling

Endless webbing Sling

Endless webbing Sling adalah webbing sling yang berbentuk tak berujung, yang dapat digunakan untuk pekerjaan lifting.

Kreteria Webbing Sling yang tidak layak digunakan

  • Label telah hilang atau rusak
  • Lapisan pelindung rusak
  • Terdapat sobekan di webbing sling
  • Tersimpul dibeberapa bagian
  • Jahitan putus
  • Aus atau pemanjangan melebihi jumlah yang telah ditentukan oleh manufacture.
  • Bahan Nilon terkontaminasi dengan Asam
  • Bahan Polester terkontaminasi dengan zat Alkaline
  • Bahan Polypropylene terkontaminasi cat, tinner aspal.

Metode penyimpanan

  1. Digantung di tempat bersih dari kotoran, minyak dll.
  2. Jauhkan dari sinar matahari langsung.
  3. Jauhkan dari percikan api.
  4. Jauhkan dari panas berlebihan.
  5. Jauhkan dari cairan kimia.
  6. Jauhkan dari kemungkinan kerusakan mekanis.

APA ITU SERTIFIKASI BNSP

APA ITU SERTIFIKASI BNSP

Dalam sertifikasi BNSP ada beberapa istilah yang akan sering kita gunakan, yakni Asesor adalah orang yang melakukan asesmen, Asesmen adalah kegiatan merencanakan, melaksanakan, dan menguji kompetensi, serta Asesi adalah pihak yang dijadikan objek asesmen.

Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat melalui pengujian kompetensi. Sedangkan sertifikat adalah bukti pengakuan tertulis atas hasil uji kompetensi tertentu. Metodologi asesmen oleh BNSP, sedangkan teknisnya oleh LSP, asesor bekerja atas perintah dan tanggung jawab terhadap BNSP.

 

Adapun formulir asesmen terdiri dari :

MMA = merencanakan dan mengorganisasi asesmen,

MPA = menentukan fokus perangkat asesmen, kebutuhan perangkat, merancang dan mengembangkan perangkat, meninjau dan mengujicoba perangkat asesmen,

MAK = menerapkan lingkungan asesmen, mengumpulkan bukti, mendukung asesi, membuat keputusan asesmen, merekam dan melaporkan keputusan asesmen, meninjau proses asesmen.

 

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi, diantaranya dengan tes lisan atau wawancara, observasi, ataupun portopolio. Tes lisan biasanya digunakan untuk mengetahui pengetahuan dan untuk menggali pengalaman. Observasi dilakukan dengan cara melaksanakan praktek lapangan dan diperhatikan oleh asesor, sedangkan portofolio dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen lalu di analisis. Adapun sifat bukti terdiri dari VATM: valid, asli, terkini dan memadai. Apabila bukti yang dikumpulkan dari Asesi terpenuhi maka asesi dinyatakan kompeten.

 

Berikut susunan pelaksanaan Pelatihan Assesor Kompetensi:

  1. Asesi datang ke LSP untuk registrasi, dari LSP dikasih formulir APL 01, APL 02, copy SKEMA dan SKKNI. Petugas LSP menghubungi asesor, membuat janji, asesi pulang.
  2. (Pra Assesmen) Asesi datang dengan membawa FR.APL 01, FR.APL 02 yang sudah terisi, dengan menyertakan porto folio pemohon berupa ijasah, sertifikat, meyertakan copy SKEMA & SKKNI, FR.MMA, FR.MAK 03 formulir banding assesmen, setelah setuju dengan perencanaan, berjanji memegang rahasia, kemudian mengisi FR.MAK 01 dan menandatangani formulir persetujuan assesmen dan kerahasiaan.
  3. (Pelaksanaan Assesmen) Hari ketiga datang dan melaksanakan tes lisan dengan interview, tes tulis (dengan mengerjakan soal), dan tes praktek observasi ke lapangan atau tempat praktek..
  4. Setelah selesai diberi rekomendasi Kompeten atau Belum Kompeten
  5. e. Form umpan balik
  6. Kalau tidak terima atas rekomendasi belum kompeten bisa melakukan banding
  7. Proses sertifikkasi selesai dan tinggal menunggu penerbitan sertifikat.

 

PENTINGNYA OPERATOR MEMAHAMI BUKU PANDUAN UNIT

PENTINGNYA OPERATOR MEMAHAMI BUKU PANDUAN UNIT

Pekerjaan yang melibatkan alat berat merupakan pekerjaan yang mempunyai nilai resiko kecelakaan yang besar. Kecelakaan dapat berdampak kompleks pada semua pihak, namun ada pihak yang paling besar terdapak yakni seorang operator.

Kenapa operator? Karena operatorlah elemen yang berhubungan langsung dengan alat berat tersebut secara kontinu, Banyak sekali resiko yang sangat mungkin berdampak kepada operator jika mau kita sebutkan, mulai dari kecelakaan ringan yang berdampak luka-luka ringan hinggak terjadinya fatality yang merenggut nyawa seorang operator.

Tidak dipungkiri lagi setiap proses pekerjaan yang melibatkan alat berat sangat memerlukan seorang operator, Maka operator adalah elemen vital dalam proses suatu pekerjaan tersebut.

Dari penjelasan tersebut menjadi penting seorang operator harus mendapatkan perlindungan untuk menjamin keselamatannya, Banyak cara dan metode yang bisa dilakukan untuk hal tersebut, salah satunya yakni operator harus mengetahui spesifikasi dan prosedur keamanan kerja operasi pada unit alat berat yang sedang digunakan.

Setiap unit alat berat sudah dibekali buku panduan/manual book yang memudahkan para operator untuk mengenali spesifikasi dan prosedur keamanan kerja operasi unit alat berat secara aman.

Namun, buku panduan/manual book biasanya tidak ter-deliver dengan baik kepada operator karena hanya disimpan di tempat tertentu yang sulit diakses oleh operator sehingga mempersulit operator untuk mendapatkan informasi terkait unit alat berat tersebut.

Ataupun sebaliknya, buku panduan/manual book tersedia untuk para operator namun tidak dimaksimalkan atau dipelajari yang bisa mengakibatkan kurang tepatnya pemahaman informasi terkait alat berat sampai kepada operator junior setelahnya.

Dari semua itu penting adanya kesadaran antara manajemen dan operator terkait hal itu, Dari menajemen misalnya, bisa memfasilitasi suatu program pelatihan/pembinaan untuk operator terkait spesifikasi dan prosedur keamanan kerja operasi pada unit alat berat secara spesifik.

Dan dari sisi operator juga diharapkan kesadaran untuk mengupgrade informasi tentang spesifikasi dan prosedur keamanan kerja operasi pada unit alat berat dari berbagai sumber. Sehingga tercapai tujuan bersama yakni keselamatan dan kesehatan kerja untuk operator, seluruh pihak terkait serta lingkungan kita. Semoga bermanfaat.

Training Operator Gondola Sertifikasi KEMNAKER RI PT. Nusantara Traisser

Training Operator Gondola Sertifikasi KEMNAKER RI PT. Nusantara Traisser

Pertambahan jumlah penduduk merupakan fenomena alamiah yang wajar. Dengan pertambahan jumlah penduduk tersebut menyebabkan pengembangan pemukiman, pengembangan perkantoran maupun sarana yang lain, yang membutuhkan lahan lebih luas sebagai tempat untuk membangun. Padahal lahan yang tersedia di bumi ini tetap. Sehingga dicari solusi dengan menambah luas pemukiman dan perkantoran ke arah vertikal.

Munculnya bangunan bertingkat terutama di kota-kota besar pada saat ini merupakan upaya pemecahan masalah dari pertambahan penduduk yang semakin pesat. Bangunan bertingkat dapat berupa gedung perkantoran, hotel, apartemen, cerobong pabrik, dan monumen.

Akan tetapi ternyata upaya pemecahan masalah tersebut menimbulkan beberapa permasalahan baru, yang dalam perkembangan teknologi disebut sebagai Fenomena Dialektika, yaitu setiap penyelesaian suatu masalah akan menimbulkan masalah baru yang pada suatu saat memerlukan pemecahan pula.

Masalah-masalah baru yang timbul akibat dibangunnya gedung-gedung bertingkat terjadi pada tahap pelaksanaan pembangunan dan pemeliharaannya setelah gedung selesai dibangun, diantaranya :

  1. Bagaimana melakukan pemasangan keramik, kaca, granite cladding pada bangunan bertingkat?
  2. Bagaimana membersihkan gedung terutama bagian luar karena terbatasnya tangan manusia untuk menjangkaunya?
  3. Bagaimana memelihara gedung tersebut, jika pada suatu ketika diperlukan pengecatan ulang, penggantian kaca, dan memperbaiki kebocoran?

Masalah-masalah tersebut akan lebih terasa pada tahap pemeliharaan bangunan yang merupakan kegiatan pascakonstruksi, sebagai kelanjutan dari selesainya tahap konstruksi. Kegiatan pemeliharaan berlangsung pada kurun waktu yang sangat lama dibanding tahap prakonstruksi, dan tahap konstruksi, yaitu selama bangunan tersebut masih dipakai. Oleh karena itu dalam tahap pemeliharaan bangunan bertingkat diperlukan peralatan yang memadai, agar proses pemeliharaannya dapat dilakukan secara efektif dan efisien.

Pada tahap konstruksi peralatan seperti bambu, kayu, scaffolding masih mungkin digunakan. Pada saat ini bangunan belum selesai, sehingga masih dimungkinkan membuat konstruksi bantu untuk mencapai ketinggian tertentu. Namun pada tahap pemeliharaan bangunan bertingkat penggunaan peralatan tersebut sudah terasa ketinggalan, disamping tidak dapat berfungsi dengan baik, aspek keselamatan kerjanya juga diragukan.

Untuk menjawab masalah-masalah tersebut di atas, solusi yang dapat dilakukan dengan cara menggunakan alat penunjang yang disebut GONDOLA atau dengan istilah teknis disebut Suspended Power Scaffold.

Dengan menggunakan gondola mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya:

  1. Tidak memerlukan sarana yang banyak seperti kayu, bambu, dsb.
  2. Dapat menjangkau bagian luar gedung-gedung bertingkat tinggi.
  3. Dapat dikendalikan secara electrik maupun manual.
  4. Dapat mengikuti desain arsitektur gedung, tanpa merusak segi estetika.
  5. Dapat dijadikan sebagai pengaman apabila terjadi kebakaran.
  6. Tidak mengganggu lalu lintas yang bergerak / berjalan dibawahnya.
  7. Tidak memerlukan tenaga kerja yang banyak.
  8. Tidak memerlukan waktu yang lama / mempercepat waktu pekerjaan.

PT. NUSANTARA TRAISSER Menyediakan Pelatihan Gondola Operator Tahun 2019

TUJUAN

Menciptakan & Menghasilkan Operator Gondola yang berkompeten

Operator Gondola mampu melakukan pengoperasian, perawatan, dan mampu mengurangi resiko terjadi kecelaakaan pada pesawat uap dan bejana tekan.

Mempersiapkan tenaga pelaksana yang mampu melakukan prosedur pengoperasian dengan mampu mempertimbangkan prosedur K3 Gondola di tempat kerjanya.

Persyaratan Peserta Operator Gondola

Pendidikan terakhir Minimal SMU / Sederajat ( SMK Teknik ) memiliki pengalaman kerja minimal 1 tahun.

Metode Pembelajaran

  • Diskusi antara peserta dengan Instruktur
  • Presentasi
  • Praktek

Materi Training Operator Gondola PT. Nusantara Traisser

  • Pre Test & Undang undang No.1 Tahun 1970
  • Peraturan Menteri No. 05 Tahun 1985
  • Pengenalan, Terminologi, Dan Kesker
  • Rancang Bangun & Konstruksi Gondola
  • Dasar – Dasar Listrik
  • Teori Motor Listrik
  • Tali Kawat Baja & Rantai
  • Perlengkapan yang Berputar
  • Perlengkapan Pengangkat
  • Pemeriksaan Gondola
  • Lembar Pemeriksaan Gondola
  • Evaluasi Teori
  • Evaluasi Praktek

Investasi Training Operator Gondola PT. Nusantara Traisser

Rp. 3.500.000 / Peserta

Durasi Pelatihan

3 Hari

Contact : (031)8295601 ( NT Surabaya ),  (031)8295609 ( NT Surabaya )

Telfon & Whatsapp : 081291248969 ( Bagus ), 08113185601 ( Hotline NT )

PENTINGNYA SERTIFIKASI OPERATOR UNTUK PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT (PAA).

PENTINGNYA SERTIFIKASI OPERATOR UNTUK PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT (PAA).

Forklift sangat penting untuk mengangkat dan memindahkan barang dengan mudah dan cepat, yang biasanya memerlukan banyak tenaga dan waktu yang lama bila diangkat secara manual. Kenyamanan dan kemudahan yang diberikan dengan menggunakan forklift ini juga mengandung resiko yang perlu menjadi perhatian baik oleh operator maupun orang yang bekerja di sekitarnya.

Forklift modern adalah mesin yang mengagumkan. Forklift sebagian besar lebih berat dari mobil atau truk yang ringan, sangat kuat, menggunakan kemudi roda belakang, lebarnya kurang dari 120 cm. Tidak semua orang boleh mengoperasikan forklift. Mengoperasikan forklift merupakan pekerjaan khusus yang memerlukan pelatihan dan ijin sebagai operator yang berkualitas.

Mengoperasikan forklift adalah pekerjaan yang penting dan hanya operator yang terlatih dan mendapat ijin saja yang boleh mengoperasikannya.

Operator Forklift yang Profesional merupakan suatu keharusan yang diminta oleh perusahaan, selain harus menguasai dasar-dasar Forklift, seorang operator juga harus tahu bagaimana melakukan pengoperasian Forklift dengan benar, mereka juga harus menguasai perawatan terhadap mesin-mesin Forklift.

Ketika perusahaan memilih operator forklift, harus dipertimbangkan kemampuan,kemandirian, dan kondisi mental dan fisik yang prima dari calon operator.

Operator yang ahli dan profesional harus tahu bagaimana mengoperasikan forklift dengan hati-hati dan selamat, serta dapat bereaksi dengan benar terhadap situasi yang berbahaya. Untuk dapat menjadi operator yang ahli dan profesional banyak hal yang harus dipahami, diantaranya sebagai berikut:

 

  • Bahaya-bahaya yang umum saat mengoperasikan forklift
  • Kelengkapan keselamatan yang ada pada forklift
  • Batas berat maksimum yang boleh diangkat dan keseimbangan beban
  • Posisi garpu saat memindahkan barang dan melalui jalan tanjakan atau turunan
  • Mengangkat beban yang menghalangi pandangan
  • Kondisi jalan yang dapat dilalui sesuai dengan jenis forklift yang digunakan
  • Keadaan fisik forklift dan cara melakukan pemeriksaannya, dan sebagainya.

 

Operator yang ahli dan profesional merupakan kunci utama untuk pengoperasian forklift yang selamat dan efisien.

Peraturan Menteri tenaga Kerja No. Per.05/MEN/1985 tentang Pesawat Angkat dan Angkut, Pasal 4 mengatur setiap pesawat angkat dan angkut harus dilayani oleh operator yang mempunyai kemampuan dan telah memiliki keterampilan khusus tentang Pesawat Angkat dan Angkut. Untuk itu, pelatihan bagi operator forklift merupakan suatu keharusan untuk memastikan bahwa operator tersebut sudah memiliki keahlian dan keterampilan dalam mengoperasikan forkliftnya dengan selamat dan profesional sehingga tidak menimbulkan kecelakaan dan kerugian berupa cidera pada diri mereka sendiri dan orang lain, ataupun merusak peralatan serta material.

Gondola Masa Kini

Gondola Masa Kini

GONDOLA (BUILDING MAINTENANCE UNIT)

PENGERTIAN GONDOLA

Gondola dapat juga disebut dengan istilah Suspended working Platform  dalam SWPR didefinisikan A scaffold (not being a slung scaffold) or a working platform suspended from a building or structure by means of lifting gear and capable of being raised or lowered by lifting appliances (but does not include a boatswain’s chair or similar device).

 It also includes all lifting appliances, lifting gear, counterweights, ballast, outriggers, other supports, and the whole of the mechanical and electrical apparatus required in connection with the operation and safety of such a scaffold or working platform”.

Sebuah perancah atau platform kerja ditangguhkan atau digantungkan dari bangunan atau struktur bangun dengan menggunakan alat bantu angkat yang mampu digunakan naik dan turun dengan mengangkat peralatan (tetapi tidak termasuk Single platform seat atau perangkat serupa).

Hal tersebut mencakup semua peralatan angkat, alat bantu angkat, pemberat, ballast, outriggers, dukungan lainnya, dan seluruh petugas mekanik dan listrik yang dibutuhkan sehubungan dengan operasi dan keselamatan perancah tersebut atau platform kerja

Secara umum, gondola didefinisikan sebagai alat penunjang atau alat bantu bagi pekerja, operator, cleaner yang akan bekerja di luar bangunan bertingkat tinggi, tangki minyak, tower industri, dinding kapal, dsb.

Yang digerakkan dengan bantuan motor listrik atau manual dan bergerak secara vertikal maupun horisontal. Pergerakan gondola baik vertikal maupun horisontal dapat dilakukan secara manual maupun dengan bantuan motor listrik.

BAGIAN-BAGIAN GONDOLA

Secara umum gondola mempunyai bagian bagian-bagian penting, diantaranya: Platform/cage/cradle/kereta sebagai tempat pekerja melakukan pekerjaan.

Konstruksi penggantung yang mempunyai model sesuai dengan bentuk gedung, kegunaan dan keinginan konsumen.

  1. Wire Rope / tali kawat baja sebagai penggantung platform dengan roof car.
  2. Mesin penggerak.
  3. Accessories yang lain seperti:
  • Strirrup
  • Safety Device
  • Panel Contol dan kabel power
  • Roda dinding dan roda platform
  • Wire clip, thimble, dan shackle

MACAM-MACAM GONDOLA

Berdasarkan konstruksi yang digunakan gondola dibagi menjadi 2 macam yaitu gondola temporary dan gondola permanent.

GONDOLA TEMPORARY

Gondola Temporary adalah Unit Gondola yang terdiri dari   berbagai komponen yang dapat dipisahkan dan dapat     dipindahkan ke berbagai konstruksi penggantung atau   dapat dipindahkan ke gedung lain. Gondola Temporary dibedakan menjadi berbagai macam antara lain:

1. Paraphet Clamp

Paraphet Clamp

Paraphet Clamp adalah Konstruksi yang digunakan untuk gedung yang hanya memiliki space/area terbatas pada lantai atas. Jenis konstruksi tersebut hanya digunakan pada gedung yang struktur paraphetnya terbuat dari full beton bertulang.

2. T-Jack Manual

T - Jack

Konstruksi Penggantung T-Jack adalah konstruksi yang terdiri dari Suspended Mechanism dan Counterweight, Biasa digunakan para kontraktor proyek pembangunan gedung.

3. David Socket

David Socket

Konstruksi penggantung yang digunakan untuk gedung yang memiliki space terbatas. Area minimal yang diperlukan untuk konstruksi jenis david socket adalah 80 cm dari paraphet bagian dalam.

David Socket memiliki batas maksimal yang telah direkomendasi oleh depnaker yaitu hanya boleh digunakan untuk gedung maksimal 10 lantai, serta batas dimensi yang diperbolehkan adalah tinggi konstruksi 2 meter dan panjang lengan pengantung 2 meter.

4. Monorail

Monorail

Gondola Type Monorail adalah type gondola yang digunakan untuk gedung yang sama sekali tidak memiliki area di roof top.

Konstruksi terdiri dari rail yang dilas pada support yang terpasang pada struktur kolom gedung. Platform digantung pada trolly yang terpasang pada rail.

5. Mobile Roof Double Arm

Mobile Roof Double Arm

Konstruksi Mobile Double Arm adalah jenis konstruksi yang cara pemindahannya dengan cara manual didorong oleh beberapa orang dan ada juga yang pemindahannya dengan sistem motorized dan dapat diparkir di lantai atas.

6. Mobile Roof Single Arm

Mobile Roof Single Arm

Menggunakan electric control yang digerakan oleh motor dan gearbox. Untuk pemindahan posisi penggunaan control menggunakan dengan push button dibantu dengan steer.

7. Mobile Roof Rail Track

Mobile Roof Rail Track

Pemindahan konstruksi tersebut terdapat rail yang dipasang sekeliling area yang dibutuhkan.

GONDOLA PERMANENT

Gondola Permanent adalah Unit Gondola yang terdiri dari   berbagai komponen sehingga membentuk satu kesatuan unit yang tidak dapat dipisahkan dan Permanent berada disuatu lokasi/gedung, berdasarkan konstruksi ini gondola permanent dibagi menjadi:

1. Fixed Arm

Fixed Arm

Type gondola yang digunakan untuk karakteristik gedung yang seluruh keliling lantai roof top memiliki jarak yang sama dari rel ke paraphet atau memiliki perbedaan yang tidak lebih dari 3 meter.

2. Luffing

 Luffing

Digunakan untuk paraphet yang memiliki ketinggian lebih dari 2 meter, Type gondola ini  menjadi pilihan utama apabila dari pihak gedung menginginkan keberadaan gondola tidak mengganggu  view gedung itu sendiri.

3. Telescopic Arm

Telescopic Arm

Type gondola yang digunakan apabila jangkauan boom arm dari yang terdekat hingga yang terjauh memiliki perbedaan lebih dari 3 meter.

PERBEDAAN MEKANISME KERJA LIFTING SISTEM

Sistem Lifting Gondola Temporary

Hoist yang ada pada platform (keranjang ) gondola jika difungsikan maka akan memanjat wire rope yang terpasang pada konstruksi penggantung sehingga platform (keranjang) akan naik keatas

Sistem Lifting Gondola Permanent

Winch yang berada pada konstruksi roof car jika difungsikan maka drum winch akan menggulung wire rope (sling) sehingga platform (keranjang) akan bergerak naik keatas

Untuk informasi seputar pelatihan Operator Gondola bisa menuju link dibawah

Training Operator Gondola 2019

Penulis: Abdul Wahab

Ergonomi

Ergonomi

Ergonomi merupakan istilah yang berasal dari Bahasa Yunani. Ergonomi terdiri dari dua suku kata, yaitu: ‘ergon‘ yang berarti ‘kerja‘ dan ‘nomos‘ yang berarti ‘hukum‘ atau ‘aturan‘. Dari kedua suku kata tersebut, dapat ditarik kesimpulan bawa ergonomi adalah hukum atau aturan tentang kerja atau yang berhubungan dengan kerja.

Ergonomi adalah studi mengenai aspek –  aspek manusia dalam lingkungan yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen & desain / perancangan.

Menurut Permenakertrans No. 5 Th. 2018, Faktor Ergonomi adalah faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas Tenaga Kerja, disebabkan oleh ketidak sesuaian antara fasilitas kerja yang meliputi cara kerja, posisi kerja, alat kerja, dan beban angkat terhadap Tenaga Kerja

Ergonomi dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya mengarah kepada tujuan yang sama yakni peningkatan kualitas kehidupan kerja (quality of working life). Aspek kualitas kehidupan kerja merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi rasa kepercayaan dan rasa kepemilikan pekerja kepada perusahaan, yang berujung kepada produktivitas dan kualitas kerja.

Faktor Ergonomi merupakan salah satu faktor bahaya yang dapat ditemui di tempat kerja dengan memperhatikan tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh pekerja sehingga pekerja terhindar dari resiko stress, gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja. Upaya untuk menanggulangi hal tersebut adalah dengan menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh pekerja dengan pengaturan layout kerja, tinggi lantai kerja, suhu dan cahaya sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja.

Ergonomi

Tujuan Ergonomi

  1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja;
  2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial dan mengkoordinasi kerja secara tepat, guna meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif;
  3. Menciptakan keseimbangan rasional antara aspek teknis, ekonomis, dan antropologis dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.

 

Manfaat Ergonomi

  1. Pekerjaan menjadi cepat selesai
  2. Resiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja semakin kecil
  3. Mengurangi jam kerja hilang
  4. Terciptanya kepuasan kerja yang tinggi
  5. Minimnya angka absen pekerja
  6. Kelelahan kerja berkurang
  7. Meningkatkan produktivitas kerja

 

Prinsip Ergonomi

Prinsip ergonomi adalah suatu pedoman dalam menerapkan ergonomi di tempat kerja. Adapun prinsip tersebut antara lain :

  1. Menghindari posisi kerja yang janggal
  2. Memperbaiki cara kerja dan posisi kerja
  3. mendesain kembali atau mengganti tempat kerja, objek kerja, bahan, desain tempat kerja dan peralatan kerja
  4. Memodifikasi tempat kerja, objek kerja, bahan, desain tempat kerja dan peralatan kerja
  5. Mengatur waktu kerja dan waktu istirahat
  6. Melakukan pekerjaan dengan sikap tubuh dalam posisi netral atau baik
  7. Menggunakan alat bantu.

Menurut Permenaker No. 08 tahun 2018 tentang K3 Lingkungan Kerja, pengukuran dan pengendalian faktor ergonomi dilakukan pada tempat kerja yang memiliki potensi bahaya faktor ergonomi meliputi :

  1. Cara kerja, posisi kerja, dan postur tubuh yang tidak sesuai saat melakukan pekerjaan
  2. Desain alat kerja dan tempat kerja yang tidak sesuai dengan antropometri tenaga kerja
  3. Pengangkatan beban yang melebihi kapasitas kerja

 

Agar tujuan penerapan ergonomi di tempat kerja dapat berhasil secara optimum dan dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja, ada 8 kelompok masalah ergonomi yang perlu mendapat perhatian yaitu :

  1. Gizi kerja
  2. Pemanfaatan tenaga dan otot
  3. Sikap dan cara kerja
  4. Kondisi lingkungan kerja
  5. Waktu kerja
  6. Kondisi informasi
  7. Kondisi sosial
  8. Interaksi mesin – mesin

Dengan memperhatikan faktor ergonomi, sistem – sistem kerja dalam semua lini departemen dirancang sedemikian rupa memperhatikan variasi pekerja dalam hal kemampuan dan keterbatasan (fisik, psikis, dan sosio – teknis) dengan beberapa metode seperti Rapid Upper Limb Assessment (RULA), Rapid Entire Body Assissment (REBA), The Ovako Working Posture Analysis System (OWAS), Nordic Body Map (NBM). Konsep evaluasi dan perancangan ergonomi adalah dengan memastikan bahwa tuntutan beban kerja haruslah dibawah kemampuan rata – rata pekerja (task demand < work capacity). Dengan inilah diperoleh rancangan sistem kerja yang produktif, aman, sehat, dan juga nyaman bagi pekerja.

Kondisi berikut menunjukkan beberapa tanda – tanda suatu sistem kerja yang tidak ergonomis :

  1. Hasil kerja ( kualitas dan kuantitas ) yang kurang memuaskan
  2. Sering terjadi kecelakaan kerja atau near miss
  3. Pekerja sering melakukan kesalahan yang berulang (human error)
  4. Timbul keluhan gangguan kesehatan pada pekerja seperti adanya nyeri atau sakit pada leher, bahu, punggung, atau pinggang
  5. Alat kerja atau mesin yang tidak sesuai dengan karakteristik fisik pekerja
  6. Pekerja cepat lelah dan membutuhkan waktu istirahat yang panjang
  7. Postur kerja yang tidak ergonomis, misalnya mengambil benda dengan cara membungkuk, menjangkau, atau jongkok.
  8. Lingkungan kerja yang bising, pengap, atau redup
  9. Pekerja mengeluhkan beban kerja (fisik dan mental) yang berlebihan
  10. Komitmen kerja yang rendah
  11. Rendahnya partisipasi pekerja dalam sistem sumbang saran atau hilangnya sikap kepedulian terhadap pekerjaan bahkan kepastian.