PENTINGNYA SERTIFIKASI OPERATOR UNTUK PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT (PAA).

PENTINGNYA SERTIFIKASI OPERATOR UNTUK PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT (PAA).

Forklift sangat penting untuk mengangkat dan memindahkan barang dengan mudah dan cepat, yang biasanya memerlukan banyak tenaga dan waktu yang lama bila diangkat secara manual. Kenyamanan dan kemudahan yang diberikan dengan menggunakan forklift ini juga mengandung resiko yang perlu menjadi perhatian baik oleh operator maupun orang yang bekerja di sekitarnya.

Forklift modern adalah mesin yang mengagumkan. Forklift sebagian besar lebih berat dari mobil atau truk yang ringan, sangat kuat, menggunakan kemudi roda belakang, lebarnya kurang dari 120 cm. Tidak semua orang boleh mengoperasikan forklift. Mengoperasikan forklift merupakan pekerjaan khusus yang memerlukan pelatihan dan ijin sebagai operator yang berkualitas.

Mengoperasikan forklift adalah pekerjaan yang penting dan hanya operator yang terlatih dan mendapat ijin saja yang boleh mengoperasikannya.

Operator Forklift yang Profesional merupakan suatu keharusan yang diminta oleh perusahaan, selain harus menguasai dasar-dasar Forklift, seorang operator juga harus tahu bagaimana melakukan pengoperasian Forklift dengan benar, mereka juga harus menguasai perawatan terhadap mesin-mesin Forklift.

Ketika perusahaan memilih operator forklift, harus dipertimbangkan kemampuan,kemandirian, dan kondisi mental dan fisik yang prima dari calon operator.

Operator yang ahli dan profesional harus tahu bagaimana mengoperasikan forklift dengan hati-hati dan selamat, serta dapat bereaksi dengan benar terhadap situasi yang berbahaya. Untuk dapat menjadi operator yang ahli dan profesional banyak hal yang harus dipahami, diantaranya sebagai berikut:

 

  • Bahaya-bahaya yang umum saat mengoperasikan forklift
  • Kelengkapan keselamatan yang ada pada forklift
  • Batas berat maksimum yang boleh diangkat dan keseimbangan beban
  • Posisi garpu saat memindahkan barang dan melalui jalan tanjakan atau turunan
  • Mengangkat beban yang menghalangi pandangan
  • Kondisi jalan yang dapat dilalui sesuai dengan jenis forklift yang digunakan
  • Keadaan fisik forklift dan cara melakukan pemeriksaannya, dan sebagainya.

 

Operator yang ahli dan profesional merupakan kunci utama untuk pengoperasian forklift yang selamat dan efisien.

Peraturan Menteri tenaga Kerja No. Per.05/MEN/1985 tentang Pesawat Angkat dan Angkut, Pasal 4 mengatur setiap pesawat angkat dan angkut harus dilayani oleh operator yang mempunyai kemampuan dan telah memiliki keterampilan khusus tentang Pesawat Angkat dan Angkut. Untuk itu, pelatihan bagi operator forklift merupakan suatu keharusan untuk memastikan bahwa operator tersebut sudah memiliki keahlian dan keterampilan dalam mengoperasikan forkliftnya dengan selamat dan profesional sehingga tidak menimbulkan kecelakaan dan kerugian berupa cidera pada diri mereka sendiri dan orang lain, ataupun merusak peralatan serta material.

Gondola Masa Kini

Gondola Masa Kini

GONDOLA (BUILDING MAINTENANCE UNIT)

Pertambahan jumlah penduduk merupakan fenomena alamiah yang wajar. Dengan pertambahan jumlah penduduk tersebut menyebabkan pengembangan pemukiman, pengembangan perkantoran maupun sarana yang lain, yang membutuhkan lahan lebih luas sebagai tempat untuk membangun.

Padahal lahan yang tersedia di bumi ini tetap. Sehingga dicari solusi dengan menambah luas pemukiman dan perkantoran ke arah vertikal.

Munculnya bangunan bertingkat terutama di kota-kota besar pada saat ini merupakan upaya pemecahan masalah dari pertambahan penduduk yang semakin pesat. Bangunan bertingkat dapat berupa gedung perkantoran, hotel, apartemen, cerobong pabrik, dan monumen.

Akan tetapi ternyata upaya pemecahan masalah tersebut menimbulkan beberapa permasalahan baru, yang dalam perkembangan teknologi disebut sebagai Fenomena Dialektika, yaitu setiap penyelesaian suatu masalah akan menimbulkan masalah baru yang pada suatu saat memerlukan pemecahan pula.

Masalah-masalah baru yang timbul akibat dibangunnya gedung-gedung bertingkat terjadi pada tahap pelaksanaan pembangunan dan pemeliharaannya setelah gedung selesai dibangun, diantaranya :

  1. Bagaimana melakukan pemasangan keramik, kaca, granite cladding pada bangunan bertingkat?
  2. Bagaimana membersihkan gedung terutama bagian luar karena terbatasnya tangan manusia untuk menjangkaunya?
  3. Bagaimana memelihara gedung tersebut, jika pada suatu ketika diperlukan pengecatan ulang, penggantian kaca, dan memperbaiki kebocoran?

Masalah-masalah tersebut akan lebih terasa pada tahap pemeliharaan bangunan yang merupakan kegiatan pascakonstruksi, sebagai kelanjutan dari selesainya tahap konstruksi.

Kegiatan pemeliharaan berlangsung pada kurun waktu yang sangat lama dibanding tahap prakonstruksi, dan tahap konstruksi, yaitu selama bangunan tersebut masih dipakai.

Oleh karena itu dalam tahap pemeliharaan bangunan bertingkat diperlukan peralatan yang memadai, agar proses pemeliharaannya dapat dilakukan secara efektif dan efisien.

Pada tahap konstruksi peralatan seperti bambu, kayu, scaffolding masih mungkin digunakan. Pada saat ini bangunan belum selesai, sehingga masih dimungkinkan membuat konstruksi bantu untuk mencapai ketinggian tertentu.

Namun pada tahap pemeliharaan bangunan bertingkat penggunaan peralatan tersebut sudah terasa ketinggalan, disamping tidak dapat berfungsi dengan baik, aspek keselamatan kerjanya juga diragukan.

Untuk menjawab masalah-masalah tersebut di atas, solusi yang dapat dilakukan dengan cara menggunakan alat penunjang yang disebut GONDOLA atau dengan istilah teknis disebut Suspended Power Scaffold.

Dengan menggunakan gondola mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya:

  1. Tidak memerlukan sarana yang banyak seperti kayu, bambu, dsb.
  2. Dapat menjangkau bagian luar gedung-gedung bertingkat tinggi.
  3. Dapat dikendalikan secara electrik maupun manual.
  4. Dapat mengikuti desain arsitektur gedung, tanpa merusak segi estetika.
  5. Dapat dijadikan sebagai pengaman apabila terjadi kebakaran.
  6. Tidak mengganggu lalu lintas yang bergerak / berjalan dibawahnya.
  7. Tidak memerlukan tenaga kerja yang banyak
  8. Tidak memerlukan waktu yang lama / mempercepat waktu pekerjaan.

PENGERTIAN GONDOLA

Gondola dapat juga disebut dengan istilah Suspended working Platform  dalam SWPR didefinisikan A scaffold (not being a slung scaffold) or a working platform suspended from a building or structure by means of lifting gear and capable of being raised or lowered by lifting appliances (but does not include a boatswain’s chair or similar device).

 It also includes all lifting appliances, lifting gear, counterweights, ballast, outriggers, other supports, and the whole of the mechanical and electrical apparatus required in connection with the operation and safety of such a scaffold or working platform”.

Sebuah perancah atau platform kerja ditangguhkan atau digantungkan dari bangunan atau struktur bangun dengan menggunakan alat bantu angkat yang mampu digunakan naik dan turun dengan mengangkat peralatan (tetapi tidak termasuk Single platform seat atau perangkat serupa).

Hal tersebut mencakup semua peralatan angkat, alat bantu angkat, pemberat, ballast, outriggers, dukungan lainnya, dan seluruh petugas mekanik dan listrik yang dibutuhkan sehubungan dengan operasi dan keselamatan perancah tersebut atau platform kerja

Secara umum, gondola didefinisikan sebagai alat penunjang atau alat bantu bagi pekerja, operator, cleaner yang akan bekerja di luar bangunan bertingkat tinggi, tangki minyak, tower industri, dinding kapal, dsb.

Yang digerakkan dengan bantuan motor listrik atau manual dan bergerak secara vertikal maupun horisontal. Pergerakan gondola baik vertikal maupun horisontal dapat dilakukan secara manual maupun dengan bantuan motor listrik.

BAGIAN-BAGIAN GONDOLA

Secara umum gondola mempunyai bagian bagian-bagian penting, diantaranya: Platform/cage/cradle/kereta sebagai tempat pekerja melakukan pekerjaan.

Konstruksi penggantung yang mempunyai model sesuai dengan bentuk gedung, kegunaan dan keinginan konsumen.

  1. Wire Rope / tali kawat baja sebagai penggantung platform dengan roof car.
  2. Mesin penggerak.
  3. Accessories yang lain seperti:
  • Strirrup
  • Safety Device
  • Panel Contol dan kabel power
  • Roda dinding dan roda platform
  • Wire clip, thimble, dan shackle

MACAM-MACAM GONDOLA

Berdasarkan konstruksi yang digunakan gondola dibagi menjadi 2 macam yaitu gondola temporary dan gondola permanent.

GONDOLA TEMPORARY

Gondola Temporary adalah Unit Gondola yang terdiri dari   berbagai komponen yang dapat dipisahkan dan dapat     dipindahkan ke berbagai konstruksi penggantung atau   dapat dipindahkan ke gedung lain. Gondola Temporary dibedakan menjadi berbagai macam antara lain:

1. Paraphet Clamp

Paraphet Clamp

Paraphet Clamp adalah Konstruksi yang digunakan untuk gedung yang hanya memiliki space/area terbatas pada lantai atas. Jenis konstruksi tersebut hanya digunakan pada gedung yang struktur paraphetnya terbuat dari full beton bertulang.

2. T-Jack Manual

T - Jack

Konstruksi Penggantung T-Jack adalah konstruksi yang terdiri dari Suspended Mechanism dan Counterweight, Biasa digunakan para kontraktor proyek pembangunan gedung.

3. David Socket

David Socket

Konstruksi penggantung yang digunakan untuk gedung yang memiliki space terbatas. Area minimal yang diperlukan untuk konstruksi jenis david socket adalah 80 cm dari paraphet bagian dalam.

David Socket memiliki batas maksimal yang telah direkomendasi oleh depnaker yaitu hanya boleh digunakan untuk gedung maksimal 10 lantai, serta batas dimensi yang diperbolehkan adalah tinggi konstruksi 2 meter dan panjang lengan pengantung 2 meter.

4. Monorail

Monorail

Gondola Type Monorail adalah type gondola yang digunakan untuk gedung yang sama sekali tidak memiliki area di roof top.

Konstruksi terdiri dari rail yang dilas pada support yang terpasang pada struktur kolom gedung. Platform digantung pada trolly yang terpasang pada rail.

5. Mobile Roof Double Arm

Mobile Roof Double Arm

Konstruksi Mobile Double Arm adalah jenis konstruksi yang cara pemindahannya dengan cara manual didorong oleh beberapa orang dan ada juga yang pemindahannya dengan sistem motorized dan dapat diparkir di lantai atas.

6. Mobile Roof Single Arm

Mobile Roof Single Arm

Menggunakan electric control yang digerakan oleh motor dan gearbox. Untuk pemindahan posisi penggunaan control menggunakan dengan push button dibantu dengan steer.

7. Mobile Roof Rail Track

Mobile Roof Rail Track

Pemindahan konstruksi tersebut terdapat rail yang dipasang sekeliling area yang dibutuhkan.

GONDOLA PERMANENT

Gondola Permanent adalah Unit Gondola yang terdiri dari   berbagai komponen sehingga membentuk satu kesatuan unit yang tidak dapat dipisahkan dan Permanent berada disuatu lokasi/gedung, berdasarkan konstruksi ini gondola permanent dibagi menjadi:

1. Fixed Arm

Fixed Arm

Type gondola yang digunakan untuk karakteristik gedung yang seluruh keliling lantai roof top memiliki jarak yang sama dari rel ke paraphet atau memiliki perbedaan yang tidak lebih dari 3 meter.

2. Luffing

 Luffing

Digunakan untuk paraphet yang memiliki ketinggian lebih dari 2 meter, Type gondola ini  menjadi pilihan utama apabila dari pihak gedung menginginkan keberadaan gondola tidak mengganggu  view gedung itu sendiri.

3. Telescopic Arm

Telescopic Arm

Type gondola yang digunakan apabila jangkauan boom arm dari yang terdekat hingga yang terjauh memiliki perbedaan lebih dari 3 meter.

PERBEDAAN MEKANISME KERJA LIFTING SISTEM

Sistem Lifting Gondola Temporary

Hoist yang ada pada platform (keranjang ) gondola jika difungsikan maka akan memanjat wire rope yang terpasang pada konstruksi penggantung sehingga platform (keranjang) akan naik keatas

Sistem Lifting Gondola Permanent

Winch yang berada pada konstruksi roof car jika difungsikan maka drum winch akan menggulung wire rope (sling) sehingga platform (keranjang) akan bergerak naik keatas

Penulis: Abdul Wahab

Ergonomi

Ergonomi

Ergonomi merupakan istilah yang berasal dari Bahasa Yunani. Ergonomi terdiri dari dua suku kata, yaitu: ‘ergon‘ yang berarti ‘kerja‘ dan ‘nomos‘ yang berarti ‘hukum‘ atau ‘aturan‘. Dari kedua suku kata tersebut, dapat ditarik kesimpulan bawa ergonomi adalah hukum atau aturan tentang kerja atau yang berhubungan dengan kerja.

Ergonomi adalah studi mengenai aspek –  aspek manusia dalam lingkungan yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen & desain / perancangan.

Menurut Permenakertrans No. 5 Th. 2018, Faktor Ergonomi adalah faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas Tenaga Kerja, disebabkan oleh ketidak sesuaian antara fasilitas kerja yang meliputi cara kerja, posisi kerja, alat kerja, dan beban angkat terhadap Tenaga Kerja

Ergonomi dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya mengarah kepada tujuan yang sama yakni peningkatan kualitas kehidupan kerja (quality of working life). Aspek kualitas kehidupan kerja merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi rasa kepercayaan dan rasa kepemilikan pekerja kepada perusahaan, yang berujung kepada produktivitas dan kualitas kerja.

Faktor Ergonomi merupakan salah satu faktor bahaya yang dapat ditemui di tempat kerja dengan memperhatikan tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh pekerja sehingga pekerja terhindar dari resiko stress, gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja. Upaya untuk menanggulangi hal tersebut adalah dengan menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh pekerja dengan pengaturan layout kerja, tinggi lantai kerja, suhu dan cahaya sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja.

Ergonomi

Tujuan Ergonomi

  1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja;
  2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial dan mengkoordinasi kerja secara tepat, guna meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif;
  3. Menciptakan keseimbangan rasional antara aspek teknis, ekonomis, dan antropologis dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.

 

Manfaat Ergonomi

  1. Pekerjaan menjadi cepat selesai
  2. Resiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja semakin kecil
  3. Mengurangi jam kerja hilang
  4. Terciptanya kepuasan kerja yang tinggi
  5. Minimnya angka absen pekerja
  6. Kelelahan kerja berkurang
  7. Meningkatkan produktivitas kerja

 

Prinsip Ergonomi

Prinsip ergonomi adalah suatu pedoman dalam menerapkan ergonomi di tempat kerja. Adapun prinsip tersebut antara lain :

  1. Menghindari posisi kerja yang janggal
  2. Memperbaiki cara kerja dan posisi kerja
  3. mendesain kembali atau mengganti tempat kerja, objek kerja, bahan, desain tempat kerja dan peralatan kerja
  4. Memodifikasi tempat kerja, objek kerja, bahan, desain tempat kerja dan peralatan kerja
  5. Mengatur waktu kerja dan waktu istirahat
  6. Melakukan pekerjaan dengan sikap tubuh dalam posisi netral atau baik
  7. Menggunakan alat bantu.

Menurut Permenaker No. 08 tahun 2018 tentang K3 Lingkungan Kerja, pengukuran dan pengendalian faktor ergonomi dilakukan pada tempat kerja yang memiliki potensi bahaya faktor ergonomi meliputi :

  1. Cara kerja, posisi kerja, dan postur tubuh yang tidak sesuai saat melakukan pekerjaan
  2. Desain alat kerja dan tempat kerja yang tidak sesuai dengan antropometri tenaga kerja
  3. Pengangkatan beban yang melebihi kapasitas kerja

 

Agar tujuan penerapan ergonomi di tempat kerja dapat berhasil secara optimum dan dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja, ada 8 kelompok masalah ergonomi yang perlu mendapat perhatian yaitu :

  1. Gizi kerja
  2. Pemanfaatan tenaga dan otot
  3. Sikap dan cara kerja
  4. Kondisi lingkungan kerja
  5. Waktu kerja
  6. Kondisi informasi
  7. Kondisi sosial
  8. Interaksi mesin – mesin

Dengan memperhatikan faktor ergonomi, sistem – sistem kerja dalam semua lini departemen dirancang sedemikian rupa memperhatikan variasi pekerja dalam hal kemampuan dan keterbatasan (fisik, psikis, dan sosio – teknis) dengan beberapa metode seperti Rapid Upper Limb Assessment (RULA), Rapid Entire Body Assissment (REBA), The Ovako Working Posture Analysis System (OWAS), Nordic Body Map (NBM). Konsep evaluasi dan perancangan ergonomi adalah dengan memastikan bahwa tuntutan beban kerja haruslah dibawah kemampuan rata – rata pekerja (task demand < work capacity). Dengan inilah diperoleh rancangan sistem kerja yang produktif, aman, sehat, dan juga nyaman bagi pekerja.

Kondisi berikut menunjukkan beberapa tanda – tanda suatu sistem kerja yang tidak ergonomis :

  1. Hasil kerja ( kualitas dan kuantitas ) yang kurang memuaskan
  2. Sering terjadi kecelakaan kerja atau near miss
  3. Pekerja sering melakukan kesalahan yang berulang (human error)
  4. Timbul keluhan gangguan kesehatan pada pekerja seperti adanya nyeri atau sakit pada leher, bahu, punggung, atau pinggang
  5. Alat kerja atau mesin yang tidak sesuai dengan karakteristik fisik pekerja
  6. Pekerja cepat lelah dan membutuhkan waktu istirahat yang panjang
  7. Postur kerja yang tidak ergonomis, misalnya mengambil benda dengan cara membungkuk, menjangkau, atau jongkok.
  8. Lingkungan kerja yang bising, pengap, atau redup
  9. Pekerja mengeluhkan beban kerja (fisik dan mental) yang berlebihan
  10. Komitmen kerja yang rendah
  11. Rendahnya partisipasi pekerja dalam sistem sumbang saran atau hilangnya sikap kepedulian terhadap pekerjaan bahkan kepastian.

Fungsi & Jenis Crane

Fungsi & Jenis Crane

Crane merupakan salah satu pesawat angkat angkut yang memiliki fungsi untuk pengangkat dan pemindah material dengan ketentuan khusus secara aman.

Crane masuk dalam kategori mesin alat berat (heavy equipment) yang memilki bentuk dan kemampuan angkat sesuai spesifikasi kebutuhan produksi. Crane digunakan dalam kegiatan pengangkatan benda dengan beban yang berat, serta digunakan dalam berbagai sector pekerjaan misalnya : pekerjaan  proyek, pelabuhan, perbengkelan, industri, pergudangan dll.

Crane terdiri atas beberapa jenis, Jenis crane tersebut  adalah :

1. Tower Crane

Tower Crane

Tower Crane merupakan alat pengangkat material yang biasanya banyak digunakan pada proyek konstruksi.

Struktur Tower crane yang tinggi menjulang memudahkan pekerja kontruksi untuk menaikan bahan-bahan material untuk proses pembangunan suatu gedung. Selain itu tower crane di lengkapi jib (boom) yang memungkinkan crane dapat menjangkau ke semua sudut bagian atas bangunan.

Dengan berbagai peralatan Tower Crane ini cukup besar, dibutuhkan pula truk untuk melakukan pemindahan komponen dari crane ini. Di samping itu, dalam hal pemasangan/perakitan Crane Tower membutuhkan bantuan dari alat angkat lainnya dan diperlukan pula pondasi konkrit untuk menunjang kekuatan penyangga dari dasar struktur crane.

2. Mobile Crane (Truck Crane)

Mobile Crane

Berbeda dengan Tower Crane yang membutuhkan waktu lama dan susah dibawa kemana mana.

Mobile Crane memiliki mobilitas paling tinggi karena memiliki kelebihan yaitu bisa dibawa kemana mana dalam area kerja dengan cepat.

Secara umum mobile crane sangat efektif untuk melakukan pergerakan pengangkatan. Namun, harus diketahui jika ada beberapa crane yang harus dioperasikan dengan penanganan khusus.

Mobile crane pada umumnya memiliki kaki (pondasi/tiang) yang dapat dipasangkan ketika beroperasi, ini dimaksudkan agar ketika beroperasi crane menjadi seimbang kaki tersebut dinamakan Outrigger.

3. Crawler Crane

Crawler Crane

Jika sebelumnya Mobile Crane memiliki efisiensi dalam jangkauan wilayah dan pemasangan yang cepat.

Crane ini menggunakan roda rantai (crawler) yang dapat bergerak ketika digunakan  dan digunakan pada berbagai medan tanah.

Untuk menuju lokasi pekerjaan, crawler crane perlu diangkut menggunakan truck trailer ke tempat lokasi, tapi sebelum itu perlu dilakukan dengan membongkar bagian ‘Boom’ menjadi beberapa bagian kemudian dipasang kembali pada lokasi proyek saat akan digunakan.

4. Hidraulik Crane

Hidraulik Crane

Crane dengan system Hidraulik ini biasanya hanya digunakan untuk pekerjaan dengan struktur yang sederhana saja, seperti misalnya untuk bagian pergudangan, perbengkelan, dan lain sebagainya.

Crane ini biasanya diletakkan pada satu tempat dan tidak untuk dipindah-pindah dan dengan jangkauan tidak terlalu panjang serta putaran yang hanya 180 derajat saja.

Biasanya pada suatu perbengkelan/pergudangan terdapat lebih dari satu Crane.

5. Hoist Crane/Overhead Crane

Overhead Crane

Sama halnya dengan Hidraulik Crane, Hoist crane ini juga tidak untuk dipindah tempatkan. Penggunaan Hoist Crane sendiri sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Hidraulik Crane, namun yang membedakan adalah Crane ini hanya bisa digunakan untuk maju mundur saja.

Hoist Crane letaknya berada di langit-langit dan berjalan diatas rel khusus yang dipasangi pada langit-langit tersebut

6. Jip Crane

Jip Crane

Jip Crane bisa dibilang sebagai gabungan dari Hoist Crane dan juga Hidraulik Crane, karena Jip Crane memiliki system kerja dan juga mesin yang sama seperti Hoist Crane, namun memiliki Struktur badan seperti Hidraulik Crane.

Penggunaan Jip Crane sendiri biasanya banyak digunakan untuk wilayah pergudangan dan juga perbengkelan.

Jip Crane sendiri terdiri dari berbagai ukuran dari mulai yang berukuran kecil hingga berukuran besar.

Perlindungan Terhadap Bahaya Bising

Perlindungan Terhadap Bahaya Bising

Nusantara Traisser – Sebelum kita masuk ke materi tentang cara perlindungan bahaya terhadap bising kita akan membahas terlebih dahulu apa yang dinamakan dengan Bising.

Apa Itu Bising

Bising adalah Suara atau Bunyi yang timbul dengan tidak di kehendaki yang memiliki sifat untuk mengganggu dan menurukan daya tangkap suara pada pendengaran orang lain (WHS,1993)

Bagaimana Cara Telinga Manusia Mendengar

Getaran, menimbulkan gelombang bunyi yang kemudian ditangkap oleh daun telinga lalu masuk dalam liang telinga kemudian menggetarkan gelombang telinga dan diubah menjadi gelombang mekanik.

Pada bagian telinga terdapat tulang pendengaran di telinga tengah: malleus, incus, dan stapes. Gendang telinga menggetarkan tulang pendengaran dan kemudian meneruskannya ke telinga dalam.

Getaran Cairan di dalam koklea/rumah siput merangsang sel-sel rambut menghasilkan impuls bio elektrik,Impuls listrik dari sel-sel rambut diteruskan ke otak oleh syaraf pendengaran,
Di otak, impuls dari kedua telinga tersebut diartikan sebagai suara.

NT - Bahaya Kebisingan

Berbagai Macam Jenis Kebisingan

  • Bising Kontinyu merupakan bising di mana fluktuasi dari intensitasnya tidak lebih dari 6 dB dan tidak putus – putus. Bising Kontinyu dibagi menjadi 2 (da) yaitu :
    • Wide Spectrum adalah bising dengan spektrum frekuensi yang luas. Bising ini relatif tetap dalam batas kurang dari 5 dB untuk periode 0.5 detik berturut-turut : Suara kipas angin, mesin, dll
    • Norrow Spectrum adalah bising ini juga relatif tetap, akan tetapi hanya mempunyai frekuensi tertentu saja (frekuensi 500, 1000, 4000) misalnya gergaji sirkuler, katup gas
  • Bising Intermitten (Putus – Putus) yaitu bising yang berlangsung secara tidak terus-menerus, melainkan ada periode relatif tenang, misalnya lalu lintas, kendaraan, kapal terbang, kereta api .
  • Bising Impulsif (Mendadak) yaitu jenis bising yang memiliki perubahan intensitas suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya seperti suara tembakan suara ledakan mercon, meriam.
  • Bising Impulsif Continue sama dengan bising impulsif, hanya bising ini terjadi berulang-ulang, misalnya mesin tempa.

Berbagai Macam Sumber Kebisingan

Nilai Ambang Batas Kebisingan Berdasarkan Waktu Pemaparan

Sumber : Permenaker No. 5 tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja

Sumber : Kepmen Lingkungan Hidup No. 48 tahun 1996

Jenis Pengaruh / Gangguan Kebisingan Pada Pekerja

  • Gangguan Psikologis
  • Gangguan Fisiologis
  • Gangguan Pada Komunikasi
  • Gangguan Pada Bagian Pendengaran

 

Proteksi Terhadap Bising

Pada bagian ini kita akan membahas tentang cara bagaimana agar kita bisa mengurangi resiko dari kebisingan yang terjadi pada area kerja, penjelasan ini akan dibagi menjadi 3 bagian:

  • Sumber
  • Medium
  • Pekerja

Pada Sumber:

  • Mengganti peralatan yang menjadi sumber bising dengan yang lebih tenang.
  • Memasang peredam pada sumber.
  • Mengisolir sumber bising

Pada Medium:

  • Menambah jarak antara orang dengansumber.
  • Mengurangi durasi paparan
  • Memasang barrier antara sumber dengan

Pada Pekerja:

  • Menggunakan pelindung pendengaran pada pekerja di area bising
  • Pelindung pendengaran di tempat kerja berupa ear plug atau ear muff

 

Mari kita jaga fungsi tubuh kita dengan baik mulai dari hal kecil dan mulai dari sekarang.

JENIS BAHAYA DALAM K3

JENIS BAHAYA DALAM K3

Nusantara Traisser – Dalam dunia Safety (K3) terkadang kita sering mendengar tentang Hazard, namun tahukah kalian apa itu Hazard ?

Hazard adalah semua sumber, situasi ataupun aktivitas yang berpotensi menimbulkan cedera (kecelakaan kerja) dan atau penyakit akibat kerja (PAK).

Hazard dapat berupa bahan – bahan kimia, bagian – bagian mesin, bentuk energi, metode kerja atau situasi kerja.

KONSEP BAHAYA DALAM K3

Jenis Bahaya K3

Secara umum terdapat 5 (lima) faktor bahaya K3 di tempat kerja, antara lain : faktor bahaya biologi(s), faktor bahaya kimia, faktor bahaya fisik / mekanik, faktor bahaya biomekanik serta faktor bahaya social – psikologis.

  1. Biomechanical Hazard ( Bahaya Ergonomi )

Jenis bahaya ini berasal dari ketidak sesuaian desain layout kerja /  mesin, gerakan yang berulang serta postur / posisi kerja yang dapat mengakibatkan adanya gangguan kesehatan seperti musculoskeletal disorders (MSDs), carpal turner syndrome (CTS), badan menjadi mudah pegah dan lelah serta gangguan lainnya

.

  1. Physical Hazard ( Bahaya Fisik )

Bahaya fisik merupakan potensi bahaya yang dapat menyebabkan gangguan – gangguan kesehatan terhadap tenaga kerja yang terpapar secara terus menerus oleh faktor fisik.

Faktor fisik adalah faktor di dalam tempat kerja yang bersifat fisika antara lain kebisingan, penerangan, getaran, iklim kerja, gelombang mikro dan sinar ultra ungu. Faktor – faktor ini mungkin berasal dari bagian tertentu yang dihasilkan dari proses produksi atau produk samping yang tidak diinginkan.

Contoh kasusnya adalah mesin las, speaker, atau suara kendaraan yang sudah di modifikasi sehingga mengeluarkan suara yang terlalu bising diatas nilai ambang batas yang memekakan telinga. Jika terlalu lama terpapar oleh bising, pekerja dapat mengalami gangguan pendengaran seperti penurunan pendengaran hingga tuli.

Contoh kasus kedua adalah memegang peralatan yang bergetar sering mempengaruhi tangan dan lengan pengguna sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan sirkulasi di tangan. Sebaliknya, mengemudi traktor di jalan bergelombang dengan kursi yang dirancang tidak sesuai dengan antoprometri pekerja sehingga menimbulkan getaran ke seluruh tubuh dapat mengakibatkan nyeri punggung bagian bawah.

  1. Chemical Hazard ( Bahaya Kimia )

Bahaya kimia adalah bahaya yang berasal dari bahan bahan kimia dari mulai yang ber substansi cair, padat, ataupun juga gas yang berada di tempat kerja.

Risiko kesehatan timbul dari pajanan berbagai bahan kimia. Banyak bahan kimia yang memiliki sifat beracun dapat memasuki aliran darah dan menyebabkan kerusakan pada sistem tubuh dan organ lainnya yang dapat masuk ke dalam tubuh melalui tiga cara utama yaitu :

  • Inhalasi (menghirup) : Dengan bernapas melalui mulut atau hidung, zat beracun dapat masuk ke dalam paru-paru. Seorang dewasa saat istirahat menghirup sekitar lima liter udara per menit yang mengandung debu, asap, gas atau uap. Beberapa zat, seperti fiber / serat, dapat langsung melukai paru – paru. Lainnya diserap ke dalam aliran darah dan mengalir ke bagian lain dari tubuh.
  • Pencernaan (menelan) : Bahan kimia dapat memasuki tubuh jika makan makanan yang terkontaminasi, makan dengan tangan yang terkontaminasi atau makan di lingkungan yang terkontaminasi. Zat di udara juga dapat tertelan saat dihirup, karena bercampur dengan lendir dari mulut, hidung atau tenggorokan.
  • Penyerapan ke dalam kulit atau kontak invasif : beberapa diantaranya adalat zat yang melewati kulit dan masuk ke pembuluh darah, biasanya melalui tangan dan wajah.

 

 

  1. Biological Hazard ( Bahaya Biologi )

Bahaya biologi adalah bahaya yang berasal dari tanaman, binatang, organisme atau mikro organisme yang kemudian masuk kedalam tubuh kita yang dapat mengancam kesehatan serta dapat juga dari pekerja yang menderita penyakit tertentu yang dapat menularkan virusnya kepada pekerja lain seperti TBC, Hepatitis A/B.

 

  1. Psychosocial Hazard ( Bahaya psikologi )

Jenis bahaya ini dari beberapa ahli menyebutnya sebagai bahaya dalam pengorganisasian pekerjaan, merupakan bahaya yang berasal dari konflik batin dengan lingkungan yang ada di tempat kerja, baik itu dengan rekan kerja maupun dengan fasilitas yang ada di lingkungan kerja dimana kemudian dapat menganggu aspek psikologis pekerja sehingga dapat menyebabkan produktivitas pekerja menurun.

Contohnya: aksi bullying, kekerasan, pelecehan, pengucilan, tekanan dan himpitan pekerjaan, tuntutan deadline pekerjaan, persaingan kerja tidak sehat, pekerjaan yang monoton, jenjang karir tidak bagus, alat bantu kerja yang tidak memadai dan lainnya.

Peran K3 Di Perusahaan

Peran K3 Di Perusahaan

Peran K3

Nusantara Traisser – K3 memiliki 3 aspek berbeda yang juga saling berhubungan 3 aspek tersebut yaitu Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan. Tugas K3 tidak jauh dari 3 aspek tersebut, sementara pekerja K3 di dalam perusahaan biasa di sebut dengan HSE, SHE, EHS, OHS, SAFETY OFFICER, safety Man dll.

Keselamatan kerja merupakan usaha dari HSE (Health Safety Environment) untuk menghindarkan pekerja dari kecelakaan atau Accident. Kecelakaan ini dalam dunia K3 disebut potensi bahaya / lebih dikenal dengan Hazard, potensi bahaya terdiri atas 88% kelalaian manusia, 8% faktor alam, 8% mesin, dan 2 % dari kehendak Tuhan atau nasib.

Kita akan fokus pada presentase tentang betapa besarnya kelalaian manusia, dalam presentase angka tersebut kita melihat bahwa Manusia adalah penyumbang tertinggi dalam factor accident / Hazard.

Manusia adalah tempatnya lalai dan juga salah, dalam peranan ini maka K3 sangat dibutuhkan untuk para Pekerja, tujuannya adalah untuk mengurangi potensi bahaya yang mengancam para Pekerja, untuk pengurangan potensi bahaya bisa dilakukan dengan berbagai macam hal, contohnya adalah dengan Hierarki Pengendalian Resiko:

  • Eliminasi
  • Substitusi
  • Rekayasa Engineering
  • Administrasi
  • APD

 

Kesehatan kerja meliputi faktor-faktor yang mengancam kesehatan pekerja. Di antaranya:

  1. Faktor Biologis : hewan bakteri virus dll
  2. Faktor Fisika : panas, suhu udara, kelembaban dll
  3. Faktor Kimia : debu fum partikulat
  4. Faktor Psikilogis : mental pekerja, beban kerja dll
  5. Gizi Pekerja

Tujuan K3 dalam aspek ini adalah untuk menyehatkan pekerja dengan program dan usaha yang dapat di sesuaikan dengan kebutuhan. Contoh dengan memberi usulan kepada atasan di Perusahaan mengenai gizi yang baik untuk pekerja, adanya pemeriksaan rutin kesehatan pekerja dll. Yang ketiga adalah lingkungan, baik lingkungan perusahaan maupun dampak lingkungan akibat proses, produk dan layanan yang mempengaruhi lingkungan hidup.

Contohnya adalah HSE yang berusaha meminimalkan dampak limbah akibat proses produksi, sosialisasi warga sekitar Perusahaan mengenai cara hidup sehat, menanam pohon di area lingkungan, membuat sistem tanggap darurat dll. Tentunya 3 aspek tersebut sangat sulit di lakukan oleh hanya satu orang saja, maka dari itu dalam sebuah Perusahaan sering membentuk P2K3 atau Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja, yang tujuannya untuk melaksanakan sistem manajemen K3, Sistem manajemen lingkungan dan upaya lain mengenai Keselamatan dan Kesehatan kerja.

ALAT PELINDUNG DIRI ( APD )

ALAT PELINDUNG DIRI ( APD )

FUNGSI ALAT PELINDUNG DIRI ( APD )

NT - ALAT PELINDUNG DIRI

Nusantara Traisser – Alat Pelindung Diri adalah sebuah peralatan yang “ WAJIB “ digunakan, tujuan dari APD ini adalah untuk melindungi dan juga untuk menjaga keselamatan Pekerja di tempat yang memiliki resiko dalam pekerjaan mereka.

Tujuan lainnya adalah untuk meminimalkan dampak dan juga potensi bahaya terhadap Pekerja di tempat kerja.

Alat Pelindung Diri dapat dibagi menjadi 3 Bagian yaitu :

  1. Pelindung Kepala antara lain : Helmet (Topi Pengaman), Safety Glass (Kacamata Pengaman), Masker, Ear Plugs / Ear Muff (Penutup Telinga).
  2. Pelindung Badan antara lain : Coverall
  3. Pelindung Anggota Badan diantaranya adalah : Sepatu Pelindung (Safety Shoes/Boot), Sarung Tangan (Hand Gloves).

 

Helmet

Safety Helmet

Helmet atau Topi Pelindung digunakan untuk melindungi Kepala dari paparan bahaya seperti kejatuhan benda ataupun paparan bahaya aliran listrik.

Pemakaian Topi Pelindung (Safety Helmet) harus sesuai dengan lingkar kepala sehingga nyaman dan efektif melindungi pemakainya.

 

Safety Glass ( Kacamata Pelindung )

Safety Glassses

Safety Glass adalah alat yang digunakan untuk melindungi mata dari cahaya matahari yang langsung masuk ke mata atau bahaya loncatan benda tajam, partikel-partikel kecil, debu, mengurangi sinar yang menyilaukan serta percikan bahan kimia.

Safety Glass terdiri dari 2 Jenis yaitu :

  1. Safety Spectacles, berbentuk Kacamata biasa dan hanya dapat melindungi mata dari bahaya loncatan benda tajam, debu, partikel-partikel kecil dan mengurangi sinar yang menyilaukan. Biasanya dipakai pada Proses menyolder dan Proses pemotongan komponen.
  1. Safety Goggles, Kacamata yang bentuknya menempel tepat pada muka. Dengan Safety Goggles, mata dapat terlindung dari bahaya percikan bahan kimia, asap, uap, debu dan loncatan benda tajam. Biasanya dipakai oleh Teknisi Mesin Produksi.

 

Ear Muff ( Penutup Telinga )

Ear Muff

Ear Muff adalah alat yang digunakan untuk melindungi telinga dari berbagai macam Intensitas Suara yang tinggi.

Ear Muff dapat mengurangi intensitas suara hingga 20 ~ 30dB. Ear Muff terdiri dari Head Band dan Ear Cup yang terbuat dari bantalan busa sehingga dapat melindungi bagian luar telinga (daun telinga).

 

Ear plug ( Penyumbat Telinga )

Ear Plug

Ear plug adalah alat yang digunakan untuk melindungi telinga dari berbagai macam Intensitas Suara yang tinggi.

Digunakan untuk melindungi alat pendengaran yaitu telinga dari Intensitas Suara yang tinggi. Dengan menggunakan Ear Plug, Intensitas Suara dapat dikurangi hingga 10 ~ 15 dB. Ear Plug  digunakan oleh Pekerja yang bekerja di daerah produksi yang memiliki suara mesin tinggi seperti SMT (Surface Mount Technology) ataupun Mesin Produksi lainnya.

 

Masker ( Penutup Hidung )

Masker Safety

Masker digunakan untuk melindungi saat kita bernafas atau lebih tepatnya untuk melindungi alat pernafasan kita.

Seperti misalnya jika kita bekerja di tempat yang cukup berdebu kita akan kesulitan bernafas karena banyak partikel yang masuk ke hidung kita, maka masker digunakan untuk memfilter partikel tersebut.

 

Coverall

Coverall

Fungsi Coverall umumnya untuk melindungi tubuh dari hal yang dapat membahayakan atau mengakibatkan kecelakaan saat bekerja, Tingkat perlindungan yang diberikan pun beragam sesuai dengan kebutuhan.

Selain berfungsi sebagai alat pelindung, Coverall kerja juga mempunyai fungsi lain yaitu sebagai identitas. Fungsi identitas bertujuan untuk menyeragamkan pekerja dan menunjukkan identitas jabatan. Misalkan pakaian kerja dengan warna berbeda antara pekerja las dengan pekerja elektrik.

 

Handglove ( Sarung Tangan )

Coverall

Sarung Tangan adalah APD yang berfungsi untuk melindungi tangan dari kontak bahan kimia, sengatan listrik dan goresan benda runcing atau tajam.

Sarung tangan memiliki beberapa jenis dan spesifikasi sebagai berikut :

  1. Sarung Tangan Katun (Cotton Gloves), digunakan untuk melindungi tangan dari tergores, tersayat dan luka ringan.
  2. Sarung Tangan Kulit (Leather Gloves), digunakna untuk melindungi tangan dari tergores, tersayat dan luka ringan.
  3. Sarung Tangan Karet (Rubber Gloves), digunakan untuk melindungi tangan dari kontak dengan bahan kimia seperti Oli, Minyak, Perekat dan Grease.
  4. Sarung Tangan Electrical, digunakan untuk melindungi tangan dari kontak dengan arus listrik yang bertegangan rendah sampai tegangan tinggi.

 

Safety Shoe ( Sepatu Safety )

Safety Shoe

Sepatu Pelindung atau Safety Shoes adalah perlengkapan yang digunakan untuk melindungi kaki dari kejatuhan benda, benda-benda tajam seperti kaca ataupun potongan baja, larutan kimia dan aliran listrik. Sepatu Pelindung dilengkapi baja diujungnya dengan dibalut oleh karet.

Tentang K3 Dan Tujuannya

Tentang K3 Dan Tujuannya

Tentang K3

K3

NUSANTARA TRAISSER – K3 atau yang sering disebut dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja / Occupational Health and Safety (OHS) adalah sebuah filosofi dasar yang digunakan untuk melindungi keselamatan dan kesehatan para pekerja dalam menjalankan pekerjaanya melalui  upaya – upaya pengendalian potensi bahaya yang ada di tempat kerja untuk meminimalisir adanya kecelakaan akibat kerja dan penyakit akibat kerja.

Terwujudnya K3 di tempat kerja dapat menciptakan kondisi lingungan kerja yang aman, sehat dan efisien untuk mendorong produktivitas kerja.

K3 Safety First Sign

Definisi / Pengertian K3

K3 Adalah sebuah kondisi yang WAJIB diwujudkan di setiap tempat kerja dengan berbagai macam upaya dan juga harus sesuai dengan ilmu pengetahuan yang digunakan untuk melindungi para pekerja dan juga lingkungan ataupun peralatan bekerja yang digunakan.

Aturan K3 ini harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan agar menjadi budaya kerja yang sesuai dengan Perundanga dan standar yang berlaku di perusahaan di tempat kita bekerja.

Secara etimologis, K3 adalah memberikan upaya perlindungan yang ditujukan agar tenaga kerja dan orang lain di tempat kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat dan agar setiap sumber produksi perlu dipakai dan digunakan secara aman dan efisien.

Secara Filosofi, K3 adalah suatu konsep berfikir dan upaya nyata untuk menjamin kelestarian tenaga kerja dan setiap insan pada umumnya beserta hasil karya dan budaya dalam upaya mencapai adil, makmur dan sejahtera.

Secara Keilmuan, K3 adalah suatu cabang ilmu pengetahuan dan penerapan yang mempelajari tentang cara pencegahan penanggulangan kecelakaan di tempat kerja.

Target / Sasaran K3

  • Menjamin keselamatan para pekerja dan orang lain yang berada di tempat kerja
  • Menjamin keamanan dari peralatan yang digunakan saat bekerja
  • Menjamin terjadinya proses produksi yang aman dan efisien
  • Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja disemua lapangan pekerjaan ketingkat yang setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun kesejahteraan sosial
  • Mencegah timbulnya gangguan kesehatan masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh keadaan / kondisi lingkungan kerjanya seperti kecelakaan akibat kerja

Norma Tentang K3

  • Aturan berkaitan dengan keselamatan dan juga kesehatan kerja
  • Digunakan untuk melindungi para pekerja
  • Resiko kecelakaan dan penyakit akibat pekerjaan

Dasar Hukum tentang K3

  • UU No.1 Tahun 1970 tentang Kesehatan Kerja
  • UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
  • PP No. 50 tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja