15 April 2020

RIGGING LOFT MANAGEMENT ?

RIGGING LOFT MANAGEMENT ?

Nusantara Traisser – Pernahkah kita mengalami pada saat akan menggunakan alat bantu angkat (Rigging Gear)  kelihatan berkarat, tertumpuk  bahkan ditumbuhi jamur? sehingga mengalami pelapukan, korosi dan kerusakan lainnya. Kondisi itu sangat berbahaya terlebih lagi hal tersebut sangat dapat mengalami kegagalan pengangkatan. Manajemen rigging loft bertujuan untuk memberikan pengaturan dan layanan terhadap kegiatan operasi pengangkatan berupa pemeliharaan yang baik untuk menjamin ketersedian dan keamanan penggunaan rigging gear secara efektif dan efesien.

Setiap Rigging Gear mempunyai karakteristik masing-masing, ditentukan oleh sifat bahan dan proses pembentukannya. Sehingga pemeliharaan dan penyimpananannya dibutuhkan perlakukan yang berbeda-beda. Adapun karakteristik rigging gear  berdasarkan bahan dan proses pembentukan meliputi :

 

  1. Bahan logam forging

Dibuat dengan drop forging proses,  seperti  shackle, hook, master link, regular swivel, eye bolt dan turnbuckle. Rigging gear ini  tahan terdahap paparan panas, sinar matahari dan hujan, kuat terhadap benturan, indikasi kerusakan mudah ditemukan, tahan terhadap korosi, mudah dirawat karena tidak membutuhkan perlakuan khusus dan mempunyai keuletan permanen yang tinggi sehingga ketidakmampuan saat menahan beban dapat diketahui,

 

  1. Bahan logam wire

Dibuat dengan wire drawing proses seperti  wire rope, jenis ini mudah korosi, tertekuk, terkikis dan perawatannya lebih khusus karena selalu diberi pelumas bila kering, terdegradasi bila terpapar panas dan sinar matahari secara terus menurus, merusakan bagian dalam dan inti sulit dideteksi.

 

  1. Bahan syntetic

Alat bantu angkat berbahan syntetic antara lain polyester,  polyamide (nilon) dan polypropylene seperti web sling, lacing, full body harness. Polyester tahan terhadap asam berkekuatan sedang tapi rusak oleh alkali, polyamid (nilon) hampir kebal terhadap alkalis tetapi rusak oleh asam dan polypropylene yang sedikit tahan oleh asam atau alkali tetapi rusak oleh cairan pelarut (solvents)  yang sama seperti  trichloroethylene, carbon tetrachloride, thinner dan cat dan sejenisnya.

Untuk membedakan bahan webbing tersebut umumnya pabrik pembuat memberikan kode warna pada lebel identifikasi, seperti polyester warna biru, polyamide (nilon) warna hijau dan polypropylene warna coklat. Jenis polyester, polyamide dan polypropylene juga mudah sobek, jahitan putus dan sangat mudah terdegradasi oleh paparan sinar matahari dan hujan, sulit mendeteksi bila mengalami pelapukan.

 

  1. Bahan logam lainnya

Seperti chain hoist, lever hoist, beam clamp merupakan alat angkat portable dikatagorikan sebagai rigging gear, sehingga membutuhkan pemeliharaan rutin seperti pelumasan, dan kerusakan pada umumnya disebabkan oleh korosi, identifikasi mudah hilang, safety latch dan lock pengatur arah hoist pada lever hoist serta pengereman tidak berfungsi.

Dalam system rigging loft management, diperlukan seorang yang mampu mengakomodir segala yang berhubungan dengan kegiatan dalam system rigging loft management yaitu yang disebit dengan rigging loft controller. Personil yang ditunjuk sebagai rigging loft controller adalah bukan orang biasa, melainkan personil yang memiliki kompetensi administrative dan inspeksi ringing gear.

 

Dengan begitu setiap rigging gear akan terinventarisir dengan baik dimana terdapat pencatatan peminjaman dan pengembalian alat serta peletakan rigging gear yang sesuai dengan karakteristik bahannya. Dan kompetensi Inspeksi rigging gear dilakukan pada saat mengeluarkan untuk digunakan dan menerima kembali setelah digunakan. Tujuan inspeksi adalah untuk mengetahui dan memastikan kondisi rigging gear yang akan dan sesudah digunakan, bila kondisi layak digunakan maka dapat ditempatkan di rigging loft untuk digunakan kembali jika ada permintaan, namun bila kondisi tidak layak maka segera pisahkan sehingga tidak digunakan lagi.

Demikian sekilas tentang rigging loft management, semoga bermanfaat bagi kita semua dalam setiap pekerjaan kita pada khususnya sehingga meminimalisir kegagalan dalam kegiatan lifting.

 

Penulis: Fatich Pradana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *